19 November 2010

Daerah Rawan Tsunami di Indonesia

Semua daerah lautan di dunia ini bisa mengalami tsunami, tapi di Samudra Pasifik dan sekitarnya, kemungkinan terjadinya tsunami yang besar dan merusak lebih sering terjadi, karena sebagian besar gempa berkekuatan besar terjadi di garis Samudra Pasifik, atau lebih sering dikenal dengan istilah Lingkaran Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).

Semua daerah dataran pinggir pantai bisa saja dihantam tsunami; bahkan yang paling besar sekalipun; tingginya bisa mencapai 10 meter bahkan lebih (30 meter pada kasus luar biasa), dan mereka bisa berpindah ke daratan sejauh ratusan meter, tergantung dari permukaan tanahnya.

Tsunami terdiri dari serangkaian gelombang berpuncak yang datang setiap 10 sampai 60 menit. Biasanya gelombang pertama bukanlah gelombang terbesar. Bahaya tsunami bisa berakhir beberapa jam setelah kedatangan gelombang pertama. Kadang-kadang tsunami ditandai dengan air surut tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat dengan jelas.

Kekuatan beberapa tsunami sangat besar sekali. Batu-batu besar dengan berat beberapa ton, bersamaan dengan kapal-kapal dan puing-puing, bisa pindah ke daratan sejauh ratusan meter akibat terseret oleh gelombang tsunami, rumah-rumah dan bangunan lain pun hancur. Semua jenis benda ini dengan pergerakan air yang kuat bisa menewaskan atau melukai.

Tsunami bisa terjadi kapan saja, siang atau malam, dan dari samudra bisa menghampiri sungai atau hulu sungai. Tsunami juga bisa dengan mudah “membungkus” pulau di daerah pinggir pantai yang tidak tahu di mana sumber tsunami.


Lingkaran Api Pasifik
Lingkaran Api Pasifik adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Lingkaran Api Pasifik mempunyai 452 gunung berapi dan tempat dari lebih 50 % gunung berapi yang aktif dan tidur. Indonesia terletak di antara Lingkaran Api Pasifik sepanjang kawasan kepulauan timurlaut termasuk Papua Nugini, serta di sabuk Alpide sepanjang kawasan selatan dan barat dari Sumatra, Jawa, Bali, dan Timor.

Gunung berapi di Indonesia merupakan yang paling aktif di dalam Lingkaran Api Pasifik. Mereka terbentuk akibat daerah subduksi (pertumpukan) antara Lempeng Eurosia dan Lempeng Indo-Australia. Beberapa gunung berapi yang sudah meletus diantaranya; Krakatau pada tahun 1883 dengan dampaknya yang hebat, Danau Toba akibat ledakan super vulkanik diperkirakan terjadi 74,000 tahun yang lalu dan menimbulkan penurunan suhu drastis akibat debu vulkanik (volcanic winter), dan Gunung Tambora dengan letusannya yang sangat dahsyat tercatat pada tahun 1815.

Gunung berapi yang paling aktif di Indonesia adalah Kelud dan Merapi di pulau Jawa, yang telah menewaskan ribuan jiwa di daerah sekitarnya. Sejak tahun 1000 SM, Kelud sudah meletus lebih dari 30 kali, letusan terbesarnya mencapai skala 5 pada Volcanic Explosivity Index (VEI), sementara Merapi meletus sudah lebih dari 80 kali. Asosiasi Internasional Vulkanologi dan Kimia Interior Bumi (International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth's Interior) menjuluki Merapi sebagai Decade Volcano sejak tahun 1955 karena kegiatan vulkaniknya yang tinggi.


Kapan Air akan Datang?
Gelombang tsunami bisa membanjiri atau menggenangi daerah dataran rendah pinggir pantai. Banjir akibat tsunami adalah masuknya gelombang dari pinggir pantai secara horizontal dan menggenangi daratan. Banjir bisa meluas ke daratan sampai 300 meter (sekitar 1000 kaki) bahkan lebih, menutupi dataran luas dengan air dan puing. Banjir di bibir pantai bisa menjauh tergantung dari besarnya intensitas gelombang tsunami, permukaan bawah laut, dan elevasi topografi tanah. Suatu daerah penduduk mungkin tidak melihat adanya reaksi gelombang yang merusak, sementara di tempat lain didekatnya mungkin saja diserang oleh gelombang besar dan dahsyat. Ketika tsunami menyentuh pinggir pantai dan bergerak ke daratan, ketinggian air bisa meningkat sampai beberapa meter. Gelombang pertama mungkin bukan gelombang terbesar dari serangkaian gelombang tersebut.


Daerah pinggir pantai dengan kemiringan tertentu mengurangi terjangan gelombang, bisa mengurangi risiko terjadi tsunami.
Lereng yang curam di daerah pinggir pantai menjadi tempat tumpuan kekuatan

No comments:

Post a Comment

Hallo, terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkunjung. Akan lebih senang lagi jika teman-teman dapat meninggalkan jejak pada kolom komentar ini agar kita bisa saling blogwalking ^_^