Tetangga Toxic

January 21, 2020

Hallo teman-teman,

Postingan kali ini bukan bermaksud untuk menyebarkan kebencian atau menyinggung pihak lain, hanya saja aku sangat memerlukan media untuk berbagi kekesalan bercampur marah serta sedih akan situasi dan keadaan yang sedang aku alami selama bertahun-tahun ini, setiap aku mengawali pagi selalu dimulai dengan rasa dongkol dan bad mood. Oke, mari kita mulai cerita ini!

Sudah 4 Tahun Pindah ke Lingkungan Ini

Sejak awal menikah aku pindah ke lingkungan ini, awalnya aku menganggap lingkungan ini cukup nyaman dan damai, karena sebelumnya aku tinggal di daerah yang bisa disebut desa, kekerabatannya sangat tinggi dan kalian tau sendiri bagaimana suasannya. Tapi saat itu ga terjadi masalah apa-apa karena jarak rumah yang satu dengan yang lainnya cukup jauh dan jalan komplek cukup lebar, jadi rumah berseberangan cukup jauh.


Pindah ke sini aku senang karena di sini sudah terletak di tengah kota, akses kemana-mana sangat terjangkau dan mudah. Tapi kesenangan itu ga berlangsung lama, karena sebuah mimpi buruk yang terjadi hampir setiap hari aku alami karena tetangga toxic.

Hobi Ngerumpi Dengan Suara Nyaring dan Teriak-teriak

Sekitar 1 tahun aku tinggal di sini masih sangat damai dan nyaman, sampai pada suatu waktu ada tetangga yang pindah di seberang rumah kami (bukan tepat di seberang, tapi lebih ke kiri lagi dari rumah), mulai lah rumah tersebut ramai didatangi tetangga lainnya yang rumahnya ada di ujung-ujung jalur komplek. Awalnya mereka berkumpul di sana hanya sekedar menunggu paman sayur datang, karena paman sayur biasanya jualan ga sampai ke ujung.

Lama kelamaan, makin banyak yang berkumpul di sana, ibu-ibu yang membawa bayi nya jalan-jalan, ibu-ibu yang sudah setengah baya, termasuk ibu penunggu rumah itu sendiri. Kegiatan mereka berkumpul cukup tepat waktu, sembari menunggu paman sayur datang (sekitar 07.30 WITA) seperti kegiatan rutin orang-orang pekerja lazimnya.

Tapi kok lama-lama makin membuat ga nyaman ya? Mereka berbicara satu sama lain dengan suara yang teriak-teriak (mungkin itu bawaan mereka/cara mereka berbicara) ketawa-ketawa nyaring, dan lebih parahnya lagi sering menyindir-nyindir orang lain, udah deh aku ga ngerti lagi. Padahal aku sendiri ga mau mendengarkan pembicaraan mereka tapi mau gimanapun suara mereka tetap terdengar jelas ditelingaku karena posisi kamarku yang berada di sebelah kiri rumah.

Kegitan ngerumpi mereka biasanya terbagi pada 3 waktu, yaitu pagi (07.30-10.00 Wita bahkan lebih sampai orang adzan Dzuhur), Siang (12.00-15.00 Wita), dan terkadang sore juga (sekitar 16.00 - Waktu Maghrib). Bagaimana menurut kalian, aku mendengarkan orang berbicara keras yang menurut aku itu teriak-teriak dan ketawa-ketawa lantang setiap hari di tiga waktu tersebut dalam waktu 3 tahun? Selama aku menulis ini pun mereka sedang asik ngerumpi dengan suara yang sangat mengganggu. Ya, hanya mereka yang membuat gaduh di jalur rumah ku, sedangkan rumah lain tertutup rapat bahkan duduk di teras rumahpun ga ada.

Menutup Jendela Kamar pada 3 Waktu dan Menyalakan TV dengan Volume Tinggi

Apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasi kegaduhan seperti itu setiap hari? Sedangkan aku memiliki pekerjaan menulis dan terkadang membuat konten yang memerlukan fokus dan ketenangan. Saat aku sakit atau bed rest pun ga bisa mendapatkan istirahat yang tenang dan berkualitas, seringkali aku harus terbangun dari tidur karena mendengar kegaduhan tersebut yang menghasilkan sakit pada kepala karena bangun dengan cara terkejut.

Biasanya aku siasati dengan menutup jendela kamar pada 3 waktu yang sudah aku sebutkan diatas untuk meredam sedikit suara bising dan mengurangi risiko kaget saat tidur karena mereka tertawa nyaring secara tiba-tiba. Sebenarnya situasi seperti ini sangat ga nyaman untukku karena kalian tau sendiri bagaimana rasanya kamar yang jendelannya tertutup, sedangkan kamarku ga menggunakan AC.

Terkadang saat aku sangat ga ingin mendengar obrolan mereka yang seringkali ghibah, aku naikkan volume TV di kamar senyaring mungkin sampai suara-suara mereka ga terdengar lagi. Yaa Allah, rasanya aku mau nangis aja, sebeginikan cobaan bertetangga? Aku hanya mendambakan ketenangan the rest of my life.

Memiliki Mood Swing dan Mental yang Tak Stabil

Mungkin beberapa dari kalian akan menganggap ini adalah hal yang wajar dan sama sekali ga mengganggu, bahkan bagi yang suka dengan suasana ramai, suasana seperti ini akan sangat menyenangkan dan bahkan terpikir untuk ikut bergabung dengan mereka atau dengan kata lain "bersosialisasi".

Tapi tidak untukku, kita memiliki background kehidupan yang bebeda, rintangan yang kita lalui bebeda, pola asuh dan kasih sayang yang aku dapatkan berbeda pula dengan kalian. Membuat pribadiku yang lebih introvert dan berhati-hati dalam memilih lawan bicara, selain itu aku senang dengan kesunyian, damai dan aku orang yang sangat memikirkan perkataan orang lain.

Beberapa waktu yang lalu aku menjalani pengobatan/perawatan terhadap penyakit yang sudah aku derita beberapa tahun belakangan ini, aku harus rutin check up ke rumah sakit at least 1 bulan sekali dan obat yang masuk ke dalam tubuh aku salah satunya dapat menyebabkan "mood swing", hal ini akan sangat menjadi kendala ku untuk bekerja atau melakukan aktifitas lain jika mood ku terganggu, belum lagi rasa nyeri yang datang membuat emosiku ga stabil.

Jujur, saat aku menulis ini dalam keadaan yang sangat hopeless. Aku ga tau lagi harus berbuat apa atau bagaimana karena secara ga langsung mereka menambah "Toxic" dalam diri aku, karena setiap hari aku menjadi ikut berpikiran negatif dan marah. Ingin "healing" diri sendiri tapi malah seperti ini yang aku dapatkan setiap hari, mengeluh ke suami setiap mereka melakukan kegiatan mengganggu tersebut, terkadang juga menjadi terbawa emosi seharian.

Aku sangat mencoba berpikiran positif setiap hari, tapi bagaimana jika saat nyeri berkesinambungan dan kalian ga bisa bekerja hingga istirahat dengan tenang setiap harinya? Rasanya mau nangis, ingin sekali menjadi orang yang "masa bodoh" tapi sulit untuk aku lakukan, hanya bisa sabar setiap hari dan bedoa semoga besok terjadi perubahan dan situasinya ga seperti ini lagi (itu yang aku lakukan selama 3 tahun).

It's Okay Melakukan Kegiatan Seperti Itu, Asal...

Sebenarnya aku ga mempermasalahkan mereka berkegiatan seperti itu, mau dari pagi hingga malampun tak masalah, mau apapun yang mereka bicarakan atau bahkan ingin membicarakanku juga tak apa. Paling ga, lakukanlah agar orang lain tidak terganggu, aku sudah merasakan ini selama 3 tahun dan aku ga tau harus mengadu kemana karena aku rasa ini sudah sangat mengganggu.

Dari mereka aku juga dapat mengambil pelajaran, sesuatu yang "loudly" itu akan mengganngu orang lain, bahkan mungkin aku juga pernah melakukan hal seperti itu yang mengganggu orang lain, aku minta maaf dan minta ampun jika aku pernah berperilaku seperti itu kepada kalian. 

Overall, aku hanya ingin fokus pada kesehatan mental dan ragaku, namun dengan mendengar seperti ini setiap harinya, bukan positive vibes yang aku dapatkan tapi hanya toxic yang masuk dari telinga hingga ke hati, bahkan saat sedang beribadahpun ga bisa fokus karena suara yang terlalu keras.

Guys, aku menulis ini bukan untuk bertujuan untuk menjatuhkan atau lainnya, tapi jujur aku sangat memerlukan mengeluarkan uneg-uneg ini karena sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan hanya aku pendam. Mari kita sama-sama belajar menjaga sikap entah itu bertetangga atau lingkungan lainnya agar ga mengganggu orang lain yang mungkin sedang sakit, istirahat, bekerja maupun beribadah. Bukan aku merasa paling benar dan sok suci, tapi percayalah aku juga sedang sangat berusaha memperbaiki diri dengan belajar dari apa yang sudah aku alami, dan sikapku juga jauh dari kata sempurna.

You Might Also Like

22 komentar

  1. Dari Abu Syuraih radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

    وَاللَّه لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

    “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. “Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya” (HR. Bukhari (no.6016)).

    ReplyDelete
  2. Ngeselin banget emang,aku pernah punya pengalaman punya tetangga model gitu. Tapi ini cuma satu, dia tuh keponya minta ampun. Selain kepo, segala hal. Bisa dibilang apapun yang aku lakuin, pasti dikomentarin sama dia. Nggak cuma itu, karena dia gak punya temen ngobrol. Setiap hari selalu maen ketempatku, udah kalau maen pasti sambil ngerokok. Itu asepnya nyesek banget didalem ruangan, padahal aku aja bukan perokok. Stres banget rasanya ngadepin itu orang. Celaknya, saya nggak bisa berbuat apa-apa. Yahh...
    Jadi ghibah ujung-ujungnya. 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkw maklum lah, kita seleb.. Bukan seleb kalo ga di omongin orang kan 😝

      Delete
  3. Wah jadi inget pengalaman pas stay di jogja, sampe kbawa baby blues aku d gegara tetangga, yg kalo aku ga keluar rumah pasti akan ditanya 'mbak gina ke mana aja kok baru keliatan'. Hello who do you think you are'. Heuheu. Btw, Salam kenal mbak shofya, saya jg baru tinggal di Sekumpul, kalsel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat berbahaya ya mbak kelakuan seperti itu.. Siapa sangka akan mempengaruhi kondisi mental seseorang 😔 salam kenal juga ya mbak 🥰

      Delete
  4. Persis kayak yang saya alami sekarang ini. Hampir setiap hari perasaan saya gelisah & nggak nyaman. Saya emang kurang gaul sama tetangga karena kalau saya perhatiin kerjaannya pada nongkrong, ngomongin orang lain & ngegosip. Kalo ketawa & ngobrol juga sambil teriak-teriak. Belum lagi ngeluarin kata-kata kasar. Yang bikin sering nyesek itu kalo udah mulai nyindir & nyinyirin orang. Hati panas, tapi saya harus nahan diri karena saya bukan mereka & nggak mau kayak mereka. Belom lagi kepo, pengen tau urusan orang lain. Nggak bisa menghargai privasi. Ada lagi yang sirikan, padahal hidupnya berkecukupan. Aneh kan.

    Kalo ada orang yang punya banyak duit, bakal dideketin. Deket karena banyak duit, bukan karena pengen temenan alias mata duitan.

    Capek? Udah pasti. Karena mereka nggak akan mau berpikir efek negatifnya. Saya biasanya pasang headset aja biar nggak denger omongan mereka daripada capek hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I feel you, mereka biasanya dapat bertahan berjam-jam berkegiatan seperti itu dan hal yg paling sering aku lakukan adalah kencengin volume tv atau dengerin lagu menggunakan headset sekencengnya.
      Sumpah, kelalakuan mereka makin bikin orang mengalami depresi, khususnya orang-orang yg butuh ketenangan.

      Delete
    2. Iya seperti yang mba bilang, mereka dari pagi sampe malam asyik ngomongin dan nyinyirin orang. Anak-anak mereka juga diajarin kayak gitu. Mereka sepertinya nggak mau tahu kalo tindakan mereka itu udah mengganggu, yang penting ego mereka tersalurkan.

      Saya sebenernya terbesit ingin pindah, minimal cari lingkungan yang lebih kondusif. Kalo tinggal di lingkungan toksik begitu, lama-kelamaan nggak bagus juga buat diri saya. Gimana saya mau bergaul sama mereka kalo kelakuan mereka aja bikin capek hati.

      Delete
  5. halo mbak. yaampun ini sama banget kaya yang beberapa waktu ini aku alamin.
    dulu sebelum nikah & kalo aku kerja pulang malem (ya namanya orang kerjaaa kan banyak yang kudu dikerjain ya. huft!) selalu besok paginya di nyinyirin
    "duh mbak udah lama pacaran kok belum nikah2, makanya jangan kerja pulang malem terus"

    Si tetangga toxic yang notabene cuma seberangan rumah ini emang selalu gak pernah pengen kalah dan selalu pengen menang sendiri. Mungkin merasa senior di perumahan ini kali ya jadi suka semena-mena sama orang pindahan baru. Dan orang ini rasanya yang membawa toxic buat tetangga lain buat ngegosip atau nyindir2 orang, suaranya kenceng pula. Dan yang paling ngeselin kok ya mereka kalo mau rumpi di depan rumah. Dan persis kaya mbak cerita, waktunya mereka rumpi pun sama di jam2 tersebut.

    Kadang suka mikir, kalo orang gak punya kerjaan apa gini banget yak, hobi bener ngomongin orang lain plus suaranya kek pake toa masjid.

    Dan lebih parahnya lagi sekarang,berhubung aku udah nikah makin2 ada aja kelakuan ni ibu2 depan rumah. Yang diliat pokoknya mah materi dulu, gak bisa banget kesaing ni orang ya Allah.
    Kadang disapa suami aku cuma mlengos doank. Huft.

    Semoga tetangga toxic macem ini sgera dapet hidayah (lagi) deh hidupnya biar gak hobinya nyinyirin orang lain aja. Biar berfaedah gt hidupnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah mbak. Omongan usil nggak usah didengar. Kalau nggak ditanggapi terus mereka marah, biarin aja karena itu kesalahan dari mereka sendiri kenapa privasi mengganggu orang lain. Biasanya mereka udah tau siapa sasaran empuk mereka, jadi mereka sengaja nyerocos di depan rumah mbak.

      Kalo udah hobinya begitu, susah kapoknya sampai mereka sendiri yang ngalamin. Kalo ada tembok/lapisan peredam suara, mungkin bisa dipasang supaya nggak denger omongan mereka. Nguras energi interaksi dengan mereka.

      Delete
  6. Seperti yg aq rasain sekarang,, aq tinggal di lingkungan toxic banget,, aq gak prnah nmanya gaul ama tunggu, cukup hanya sekedar nyapa&senyum,, mereka suka nyindir", ktwa " Keras tnpa memikirkan orang trsinggung gak,, aq masih ngontrak di perumahan skrng,, anak"aq pun gk prnah main sama anak"tetangga,, ya sebabnya karna itu td,, pokoknya toxic bgt... Siapapun yg berduit, punya kendaraan roda empat psti didekati, Akrab,, yg ngontrak mah tersisih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebaiknya batasi bergaul dengan mereka. Jangan sampai anak-anak juga ketularan toxic karena ulah mereka. Mereka bukan tipikal orang yang paham privasi seseorang karena mereka punya prinsip "suka-suka gue mau ngapain" tapi mereka nggak terima giliran mereka digituin balik. Kalo emang menganggu banget, laporin aja kelakuan mereka ke aparat yang berwenang.

      Mereka akrab karena dibalik keakrabannya mereka ingin manfaatin orang yang berduit itu. Kalau buat saya, nggak masalah tersisihkan juga dari mereka karena kelakuan mereka yang toxic.

      Delete
    2. Setuju banget mbak, selama kita bukan siapa2 disana, kita jadi sasaran empuk dan kita ga bisa bersuara walaupun membela hak kita sendiri. Akhirnya akan terus di gunjing siang dan malam, katanya "orang baru jangan berani-berani, kita disini udah puluhan tahun".
      Bertahun-tahun bersabar setiap hari denger mereka kaya gitu, rasanya benar-benar bikin saya hilang kontrol, lebih sensitif, dan sering terpikir untuk pergi ke psikolog karena mental serasa berada di ujung jurang.
      Saya pindah ke tempat yang barupun masih terbayang oleh mereka, sensitif tehadap suara2 nyaring, sampai saya harus beli headphone, efek dari mereka begitu hebat sampai menimbulkan rasa insecure dan trauma mendalam.
      Semoga kita semua dihindarkan dari sifat seperti itu ya mbak, dan diberikan kesabaran lebih, dan semoga kita selalu sehat & bahagia, Aamiin

      Delete
    3. Aamiin. Betul mbak, saya sendiri juga jadi sering berprasangka, over-thinking dan sensitif karena sering dengar omongan mereka yang nyinyir dan sebenernya nggak penting buat dibahas. Pikiran saya jadi lebih tenang saat berada nggak di rumah, tapi mulai cemas lagi saat saya pulang ke rumah. Tiap ada omongan kenceng, saya seketika merasa gelisah jangan sampai kedengeran tetangga saya karena tetangga saya kepo. Sempat saya lelah psikis dan akhirnya saya konsultasi ke psikolog via online untuk konseling. Kelakuan toxic mereka benar-benar menguras energi dan mempengaruhi psikologis saya.

      Delete
    4. Turut sedih mendengarnya, Mbak.. saya dulu juga merasakan hal yg sama.. senang dan tenang saat jauh dari rumah, tp kembali cemas saat pulang ke rumah. Sampai2 rasanya ga mau kembali ke rumah.. sering nangis pas pulang dan ternyata mereka berada disana sudah standby.. seperti kita seorang yg punya dosa besar sehingga ga berani menampakkan wajah..

      Kuat ya mbak, sesekali ga papa kita sedih dan menangis, jangan terlalu dibendung agar org sekitar atau keluarga kita aware dg kondisi psikis kita dan lebih memperhatikan kita. Jangan pernah menyimpannya sendiri, cerita lebih sering dg suami keluarkan uneg2 atau org lain yg bisa kita percaya..

      Delete
  7. Ingin bgt pindah dri kontrakan yg sekarang, tpi suami gak segampang itu mw diajak pindah dgn alasan gak mw jauh dri lokasi kerja, sementra di satu sisi kalo gini trus apa aq gak stress, anak " Jg kasian... Kadang punya pikiran buat pulang aja kerumah ortu, tpi gak tega jg melepaskan semua kewajiban q ke suami, kasian suami gak di urus
    Tolong dong solusi nya😭😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Mbak, terima kasih sudah berbagi disini, kita sama2 memiliki hati2 yang berat akibat yg namanya tetangga toxic 😔 saat ini aku sudah pindah ke hunian yg baru, dulu aku bertahan selama 3 tahun di lingkungan toxic itu dan hanya bisa bersabar namun sering kali juga menangis saat ditinggal suami bekerja. In the end, tetangga yg menempati rumah yg sering jadi sarang tetangga toxic itu akhirnya pindah setelah aku juga pindah, Karena aktivitas mereka ada yg melaporkan ke pihak keluarganya yg lain, mungkin saja bukan hanya aku yg terganggu, tapi yg lain juga.Alhamdulillah, dia sudah di usir dari sana, dan tetangga yg lain ga pernah lagi nongkrong2 ga jelas ataupun mengganggu.

      Kalau boleh aku sarankan, mbak bisa kirim surat aduan ke aparat setempat seperti RT atau RW, bisa sebagai anonim atau kalau mbak mau tulis nama juga boleh, kalau mbak merasa terganggu dengan aktifitas yg "tidak wajar" hingga mengganggu dan membuat stress.. I can feel you mbak bagaimana rasanya dan stressnya kita berada dilingkungan tersebut. Semoga kita selalu diberikan kesabaran, ya ❤️

      Delete
    2. Syukurlah mbak, akhirnya bisa terlepas dari tetangga yang toxic. Apalagi aparat dan ketua RT/RW-nya kooperatif. Saat ini saya masih harus banyak bersabar dengan kelakuan tetangga toxic di lingkungan sekitar saya huhuhu. Saya juga jadi merasa setiap kegiatan yang saya lakukan diawasi oleh mereka. Semoga harapan tinggal di lingkungan yang lebih sehat bisa terwujud. Aamiin.

      Delete
    3. Aamiin.. Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran, sampai waktunya tiba ya mbak.. Jangan lupa untuk take your time, dan usahakan alihkan sebentar perhatian dan pikiran dari mereka seperti berlibur keluar dari lingkungan tersebut bersama keluarga atau teman yang bisa di ajak ngobrol. kita pantas bahagia <3

      Delete
    4. Setuju mbak. Kita pantas untuk bahagia dan mendapat ketenangan hidup tanpa harus merebut kebahagiaan orang lain. Saya sudah mengikuti saran mbak dengan berlibur dan tidak memikirkan apapun tentang mereka. Memang berbeda suasananya saat tidak berada bersama mereka. Tidur pun jadinya nyenyak sekali tanpa terganggu oleh perilaku mereka.

      Delete
    5. Waktu masih tinggal disana, saya sering ajak suami staycation. Ga perlu ke hotel yg mewah atau mahal, ke yg hotel budget dan yg lagi promo aja.. pernah waktu itu dari harga 150rb. Cukup nyaman untuk kita melepas penat dan stress selama berada dilingkungan tersebut, mengosongkan pikiran negatif dan bersiap menghadapi tantangan selanjutnya 😊 di hotel pun saya juga sering cm makan mie instant untuk menghemat hehe yg penting pikiran tenang sejenak..

      Delete
    6. Terima kasih mbak untuk sarannya. Saya lebih baik makan mie instan, tapi hati & pikiran rasanya plong dibanding makan hati & psikis terganggu terus mbak ��.

      Delete

Hallo, terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkunjung. Akan lebih senang lagi jika teman-teman dapat meninggalkan jejak pada kolom komentar ini agar kita bisa saling blogwalking ^_^

Jakarta Beauty Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Hijab Influencer Network

Hijab Influencer Network

Kumpulan Emak Blogger

Kumpulan Emak Blogger