Bijaklah dalam Penggunaan Tisu, Nasib Bumi di Tangan Kita

November 29, 2019

Tak bisa terbantahkan, tisu sudah menjadi kebutuhan manusia dalam menunjang berbagai aktivitas sehari-sehari. Bahkan, kita bisa dengan mudah menemukan tempat tisu gulung, lengkap beserta isinya, di hampir setiap warung makan pinggir jalan. Begitu juga di toilet-toilet umum.

Tissue - www.shovya.com
Sumber Gambar : Shutterstock.com
Namun demikian, tanpa disadari kita ternyata telah menjadi salah satu penyumbang masalah serius terhadap lingkungan yang bisa membahayakan nasib Bumi di masa depan. Bahkan, hal itu sudah dimulai sehak proses produksi kertas selampai tersebut. Sebuah brand produk lifestyle berbasis eco-friendly, Simple Ecology, dala penelitiannya menyebut Industri tisu dan kertas berada di urutan ke-3 dalam daftar penyumbang emisi gas terakbar dalam skema pemanasan global. Lantas, seberapa besar potensi bahaya penggunaan tisu terhadap Bumi, dan bagaimana cara mengurangi dampaknya?

Penggundulan Hutan atau Deforestation

Ketimbang kertas daur ulang, sebagian besar produksi tisu kabarnya dibuat dari pohon. Dengan semakin banyaknya varian tisu dewasa ini, itu berarti tingkat penggundulan hutan semakin meningkat. World Wide Fund for Nature (WWF) Global bahkan mencatat angka deforestasi di Indonesia naik tajam selama dua dekade terakhir.  Bahkan, peningkatan tersebut didorong untuk produksi minyak kelapa sawit serta bubur kertas (pupl) yang merupakan bahan baku dari pembuatan tisu.

Mengancam Populasi Spesies Hewan

Tak berhenti di situ, dampak dari penggundulan hutan untuk produksi juga melahirkan masalah serius lainnya, di mana WWF mencatat proses tersebut telah menghilangkan lebih dari setengah populasi beragam spesies, seperti 580 spesies burung dan 200 spesies mamalia, yang dilindungi hutan Sumatera. Hal ini bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan seluruh belahan Bumi.

Wasted Water

Founder sekaligus Chief Executive of World Green Organization, Dr. William Yu, juga menjabarkan dampak negatif lain dari proses produksi tisu. Dia mengatakan bahwa setidaknya ada 17 pohon yang ditebang serta 20 ribu gallon air yang digunakan untuk memproduksi satu ton kertas selampai tersebut. Fatalnya, tercatat bahwa penggunaan tisu di seluruh dunia bisa mencapai angka di ata satu ton per harinya. Data dari situs Earthbuddies bahkan menyebut pemakaian per hari kertas selampai di Hong Kong pada tahun 2014 lalu mencapai angka 668 ton, yang artinya setara dengan menghabiskan 11.300 pohon dan 13 juta gallon air.

Limbah Berbahaya

Lepas dari persoalan pohon dan air, proses produksi tisu juga memberikan dampak negatif lain dengan adanya penggunaan bahan kimia berbahaya, yakni Klorin. Klorin dibutuhkan untuk membuat tisu terasa lebih lembut dan berwarna putih bersih. Situs Scientific American mengatakan bahwa produksi tisu di Negeri Paman Sam bahkan mencampurkan 253 ton klorin sebagai bahan bleaching ke dalamnya. Perlu dicatat bahwa klorin tentu berpotensi mencemari perairan pasca-produksi.

Emisi Karbon

Tak berakhir di situ, proses produksi kertas selampai juga memberikan dampak negatif atas persoalan emisi gas yang di dunia. Situs Scientific American menyebut bahwa bahaya bagi Bumi juga datang dari proses pembuatan tisu yang sanggup menembus angka penggunaan listrik sebanyak 17,3 Terawatt setiap tahun. Hal ini belum termasuk tambahan emisi yang diciptakan selama proses packaging serta tranportasi saat pendistribusian dari pabrik ke retail-retail.


Nah, Guys. Jadi mulai bijaksanalah dalam menggunakan sehelai tisu, sebab nasib masa depan Bumi beserta isinya ada di tangan kita sendiri. Pakailah kertas selampai seperlunya, jangan dihambur-hamburkan untuk kegiatan yang sejatinya tidak berfaedah. 

You Might Also Like

19 komentar

  1. Aku memang sejak lama lebih memilih sapu tangan buat lap bersih, dibawa di dalam tas.
    Penggunaan tsiu sangat minim, semoga bisa belajar bijak gunakan tisu.

    ReplyDelete
  2. Kadang kita anggap hal sepele tapi dampaknya luar biasa. Jujur aku masih pake tisu, tapi sedang berusaha menguranginya

    ReplyDelete
  3. On process... Saya pun sedang membiasakan diri ketergantungan dari tisu dan plastik. Kesulitannya ketika ada acara semacam arisan gitu, masih sulit dibiasakan untuk zero waste dan ramah lingkungan. Kecuali jika acara bersama komunitas yang memang sudah sadar zero waste

    ReplyDelete
  4. Kudu bijaaakkkkk bgt pakai tisu dan barang2 seperti plastik dll.
    Cinta lingkungan kudu ditunjukkan dgn aksi nyata!!

    ReplyDelete
  5. Harus mulai dari diri sendiri dan lingkungan rumah untuk membiasakan kebiasaan baik ini ya, mba. Bijak menggunakan bahan2 sekali pakai, termasuk tisu.

    ReplyDelete
  6. Saya yeah mulai mengganti tisu dengan saputangan, tapi yaitu dia suka lupa bawa #hiks

    ReplyDelete
  7. Semoga bisa meminimalisir menggunakan tisu dan kertas. Sampah tisu memang bikin gak enak. Khususnya tisu basah sewaktu mendaki gunung. Semua jalur jadi tidak bersih. Sampah tisu basah dimana-mana. Malah bikin kotor

    ReplyDelete
  8. Pengingat nih buat aku. Aku masih sering pakai tisu dibanding lap kain. Tak terbayang begitu besar kerugian yang ditimbulkan karena penggunaan tisu yang semaunya

    ReplyDelete
  9. Aku malu, even baru membaca judulnya hiks.
    Saya paling boros pakai tisue dan ditiru ama anak-anak.
    Sekarang kelimpungan sendiri mengajari mereka hemat tisue.

    Tulisan ini seperti mengingatkan untuk lebih semangat hemat tisuenya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwkw lucu baca komen sendiri, tumben banget saya nulis pakai 'aku' ahahahahahah
      *Butuh mijon *eh :D

      Delete
  10. aku termasuk orang yang boros pakai tissue, terima kasih sudah mengingatkan kembali untuk berhemat dalam memakai tissue. Salam kenal mbak

    ReplyDelete
  11. Saya dan keluarga termasuk yang tidak ketergantungan dengan tisue. Lebih suka pakai lap yang bisa dicuci lalu dipakai lagi. Kebetulan ada banyak kain-kain yang bisa dimanfaatkan sebagai sapu tangan maupun lap.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah udah bisa lepas dari tissue. Tp kalau pembalut rasanya belum sanggup deh. Ga ngebayangin kalau pake mens cup gitu hihi

    ReplyDelete
  13. Saya jg sudah mulai mengurangi penggunaan plastik dan ke depannya tisu, masih sk lupa kalau mau bawa sapu tangan :)

    ReplyDelete
  14. Untuk penggunaan plastik aku memang sudah zero waste. Tp untuk tissue aku susah sepertinya. Krn aku masih punya bayi yang sedikit2 makan berantakan, gumoh kalo di jalan, dsb. Itu jg sudah diakali dgn saputangan kalo di rumah.

    ReplyDelete
  15. Saya sudah mengurangi sampah plastik terbukti dengan membawa Goodiebag jika ke supermarket

    ReplyDelete
  16. Aku juga sudah mulai mengurangi penggunaan tisu..
    Kmn2 bw saputangan, klo ke toilet sedia handuk

    ReplyDelete
  17. Astaga baca ini jadi pengingat banget buat aku yang anaknya bisa dibilang ketergantungan tissue apalagi kalau lagi bepergian. Seketika jadi merasa sangat jahat sama bumi yang kutinggali ini :(. Baiklah, ku akan lebih bijak untuk penggunaan tissue, mudah-mudahan pelan-pelan bisa lepas dan kembali ke sapu tangan lalu sambil ngajakin keluarga dulu buat hemat tissue

    ReplyDelete
  18. Saya termasuk yang agak gak nyaman pakai tissue emang ada semacam fobia tapi gk parah sih. Cuma gak suka aja ma tissue haha. Jd jarang pakai tissue. Kalau ngelap ya pakai serbet atau kalau di luar rmh misal ke toilet saya pilih bawa handuk kecil.

    ReplyDelete

Hallo, terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkunjung. Akan lebih senang lagi jika teman-teman dapat meninggalkan jejak pada kolom komentar ini agar kita bisa saling blogwalking ^_^

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Hijab Influencer Network

Hijab Influencer Network

Kumpulan Emak Blogger

Kumpulan Emak Blogger

Galeri Instagramku

Subscribe